Sabtu, 14 Juni 2014

perilaku organisasi ISU ISU TENTANG KEPEMIMPINAN KONEMPORER

ISU ISU KONTEMPORER DALAM KEPEMIMPINAN



PERILAKU ORGANISASI

DISUSUN OLEH ;                BAYU LISTIAWAN
                                                FAJAR ARIF F
                                                FRIDIANTO
                                                SUKRON MAHMUD

UNIVERSITAS MUHAMMDADIYAH SURAKARTA
 FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS JURUSAN AKUNTANSI
TAHUN 2014/2015








KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah “PERILAKU ORGANISASI” Kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni al-qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia.

Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah PERILAKU ORGANISASI di program studi Akuntansi. Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dosen PERILAKU ORGANISASI

Akhirnya penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam penulisan makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.





Surakarta , 15 MEI 2014
Penulis





a.       Latar belakang
Isu isu kontemporer mengenai kepeimpinan belakangan ini makin santer terdengar, banyak para peneliti yang meneliti tentang berbagai macam kepemimpinan, cara membentuk seseorang menjadi pemimpin, dan faktor faktor yang mebentuk seseorang menjadi pemimpin. Pada era globalisasi semacam ini pemimpin yang efetif dan efisien, bersahabat sangat dibutuhkan di dunia kerja yang semakin cepat berkembang ini, para pemimpin mempunyai tugas untuk megantarkan suatu organisasi mencapai tujuannya dengan tepat. Para pemimpin harus bisa meminimalisirkan biaya produksi dan mecapai laba yang sebanyak mungkin untuk kesejahteraan karyawannya, pemimpin juga dituntut agar peka pada setiap perubahan yang terjadi baik dari dalam maupun dari luar.

b.      Rumusan masalah

Dari pengkajian dan pendalaman materi mengenai isu isu kontemporer dalam kepemimpinan, ada banyak masalah yang perlu dipertanyakan, diantaranya adalah ;
           
1.      Bagaimana pemimpin yang baik itu memimpin ?
2.      Apakah mejadi seorang pemimpin bisa di pelajari ?
3.      Bagaimana cara pemimpin mempengaruhi bawahannya ?
4.      Kenapa akhir- akhir ini, kepercayaan terhadap pemimmpin menurun ?

c.       Tujuan
Dari penulisan makalah ini penulis berusaha menjelaskan secara singkat tentang materi isu-isu kontemporer kepemimpinan dengan tujuan
1.      Para pembaca bisa memperoleh ilmu kepemimpinan dari makalah ini.
2.      Pembaca juga diharapkan bisa menginterprestasikan ilmu-ilmu yang didapat dari makalah ini dan,
3.      Makalah ini bisa menjadi salah satu referensi dalam pembuatan karya ilmiah lainnya.

A.
    Pembingkaian : menggunakan kata-kata untuk mebingkai makna dan memberi informasi kepada orang lain.

Pembingkaian adalah suatau cara menggunakan bahasa untuk mengelola makna. Ini merupakan cara pemimpin untuk mempengaruhi bagimana suatu kejadian harus dilihat atau dipahami. Pembingkaian melibatkan pemilih dan penekanan satu atau lebih aspek dari suatu subjek dengan mengabaikan yan lain.

            Jika diterjemahkan kedalam bahasa  seorang fotografer pembinkaian adalah mengarahkan sudut pandang seseorang sehingga orang tersebut melhat suatu objek menurut sudut pandang si fotografer tersebut.
Melalui pembingkaian para pemimpin dapat menggunakan bahasa untuk mempengaruhi persepsi pengikutnya tentang suatu masalah, makna dari suatu kejadian,kayakinan tentang penyebab dan konsekuensi dan visi akan masa depan. Lewat pembingkaianlah para pemimpin menentukan apakah orang-orang memperhatikan suatu masalah, bagaimana mereka memahami dan mengingat masalah-masalah yang ada, dan bagaimana mereka bereaksi terhadap suatu masalah. Jadi, pembingkaian merupakan suatu alat yang sangat berguna bagi pemimpin untuk mempengaruhi cara pandang dan interprestasi orang lain melalui suatu realitas.


B.     MACAM-MACAM BENTUK KEPEMIMPINAN , DAN ARTI SEBUAH KEPERCAYAAN
Kepemimpinan karismatik
      Max weber seorang sosialog ilmuan pertama yang membahas kepemimpinan karismatik. Karisma berasal dari bahasa yunani yang berarti “anugerah”. Sebagai suatu sifat tertentu dari seseorang, yang membedakan mereka dari orang kebanyakan dan biasanya di pandang sebagai kemampuan atau kualitas supranatural, manusia super, atau paling tidak daya-daya istimewa. Kemampuan-kemampuan ini tidak dimiliki orang biasa, tetapi dianggap sebagai kekuatan yang bersumber dari illahi dan berdasarkan hal ini seseorang kemudian danggap sebagai seorang pemimpin. Ada beberapa karakteristik kunci dari pemimpin yang karismatik

1.      Visi dan artikulasi : memiliki visi yang ideal bahwa masa depan lebih baik dari hari ini dan mengklarifikasikan pentinggnya visi yanng bisa dipahami orang lain.
2.      Risiko pribadi : bersedia mengambil resiko pribadi yang tinggi, mengeluarkan biaya yang besar, dan berkorban untuk mencapai visi tersebut.
3.      Sensitif dengan kebutuhan bawahan : menerima kemampuan orang lain dan bertanggungjawab atas kebutuhan dan perasaan mereka.
4.      Perilaku yang tidak konvensional : memiliki perilaku yang dianggap baru dan berlawanan dengan kebiasaan.
Kepemimpian karismatik merupakan bakat namun juga bisa diciptakan melalui beberapa latihan yang mencakup tiga tahap diantaranya adalah:
Pertama, seseorang perlu mengenbangkan aurakarisma dengan cara mempertahankan cara pandang yang yang optimis.
Kedua, seseorang menarik orang lain dengan cara menciptakan ikatan yang menginspirasi orang lain tersebut untuk mengikutinya.

Ketiga, seseorang menyebarkan potensi kepada pengikutnya dengan cara menyentuh emosi mereka.
Cara pemimpin karismatik mempenngaruhi bawahannya adalah dimulai dari pernyataan visi sang pemimpin, kemudian dilanjutkan pernyataan formal mengenai visi dan misi sang pemimpin, dan setelah visi dan misi ditetapkan, seorang pemimpin kemudian mlengkomunikasikan kinerja yang tinggi dan meyakini para bawahan bisa mencapainya, sellanjutnya pemimpin menyatakannya melalui perkataan  dan perbuatannya, seperangkat nilai baru, dan melalui perilakunya memberikan teladan untuk ditiru para pengikutnya.
Kepemmipinan karismatik juga tergantung situasi, biasanya kepemimpinan karismatik ada dalam suasana politik, konflik atau perang yang genting, melalui orang-orang yang mempunyai jiwa juang dan punya visi serta tujuan yang nyata. Kepemimpinan karismatik juga memiliki beberapa sisi gelap, diantaranya pemimpin karismatik mempengaruhi bawahannya untuk bertindak anarkis, dan memperkaya diri sendir dengan penggunaan fasilitas yang diperoleh oleh perusahaan secara berlebihan.


Kepemimpinan transformasional
            Pemimpin tranformasonal menginspirasi para pengikutnya untuk mengesampingkan kepentingan pribadi mereka demi kepentingan organisasi dan mereka mempunyai pengaruh yang luar biasa pada diri para pengikutnya. Mereka menaruh perhatian terhadap kebutuhan pengembangan diri para pengikutnya, mengubah kesadaran para pengikutnya atas isus-isu yang ada dengan cara membantu orang lain memandang masalah lama dengan cara yang baru, serta mampu menyenangkan hati dan menginspirasi para pengikutnya untuk bekerja keras guna mencapai tujuan-tujuan bersama. Bedanya dengan pemimpin transaksional adalah pemimpin transaksional mengispirasi para pengikutnya pada tujuan yang telah ditetapkan dengan cara memperjelas peran dan tugas mereka.




Karakteristik kepemimpinan transaksional dan transformasional
Transaksional
Tarnsformasional
Penghargaan bersyarat
Pengaruh yang ideal
Manajemen dengan pengecualian (akif)
Motivasi yang inspirasional
Manajemen dengan pengecualian (pasif)
Stimulasi intelektual
Laissez - faire
Pertimbangan yang bersifat individual









Dalam beberapa tahun terakhir, telah banyakpenelitian yang dilakukan untuk menjelaskan bagaimana kepemimpinan transformasional bekerja. Para pemimpin tranformasional mendorong bawahannya agar lebih kreatif dan inovatif, serta berani mengambil resiko. Para pemimpin tranformasional juga lebih efektif karena mereka sendiri juga lebih kretif dan juga efektif karena mampu mendorong pengikutnya menjadi kreatif juga.
Adanaya tujun yang ditetapkan merupakan mekanisme penting lain yang menjelaskan bagaimana kepemimpinan transformasional bekerja. Para pengikut pemimpin transformasional cenderung mengejar tujuan-tujuan ambisius, memahami dan menyetujui tujuan-tujuan strategis organisasi,dan yakin bahwa tujuan-tujuan yang mereka kejar itu penting.
Bukti-bukti yang mendukung keunggulan kepemimpinan transformasional dibandingkan transaksional sangat banyak. Kepemimpinan transformasional telah menunjukan keberhasilannya dibanyak negara, dan juga dalam pekerjaan yang berbeda.
Dari berbagai macam penelitian mengenai kepemimpinan transformasional dan transaksional, keseluruhan bukti mengindikasikan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki korelasi yang lebih kuat dibandingkan dengan kepemimpinan transaksional dengan tingkat perputaran yang rendah, produktivitas yang lebih tinggi, dan kepuasan karyawan yang lebih tinggi.

Kepemimpinan Autentik : Etika dan Kepercayaan adalah fondasi kepemimpinan.
Pemimpin autentik mengenal betul diri mereka sendiri, sangat memahami keyakinan dan nilai-nilai yang dianutnya, serta bertindak berdasarkan nilai dan keyakinan tersebut secara terbuka dan jujur. Para pengikutnya akan memandang mereka sebagai orang yang etis. Karena itu, kualitas utama yang dihasilkan oleh kepemimpinan autentik adalah kepercayaan. Pemimpin autentik berbagi informasi, mendorong komunikasi yang terbuka, dan berpegang teguh pada cita-citanya. Hasilnya, oorang menjai percaya pada pemimpin autentik.

Etika dan kepemimpinan
Etika bersentuhan dengan kepemimpinan dibeberapa titik. Para pemimpin transformasional misalnya, digambarkan sebagaipengusung nilai-nilai moral tatkala mereka mencoba mengubah sikap dan perilaku para pengikutnya.
Karisma juga mempunyai komponen etika. Pemimpin yang tidak beretika cenderung menggunakan karisma mereka untuk menguasai para pengikutnya, yang akhirnya bermuara pada kepuasan diri semata. Pemimpin yang etis diyakini menggunakan karisma mereka untuk melayani sesama.
Kepemimpinan tidak terbebas dari nilai. Sebelum menilai seorang pemimpin sebagai seorang yang efektif, kita harus mempertimbangkan cara yang digunakan oleh pemimpin tersebut, untuk mencapai tujuan dan nilai moral dari tujuan tersebut sendiri.